20 Tahun Lumpuh, Nenek di Gowa Tinggal di Rumah Bocor
GOWA – Seorang lansia bernama Bungalia Daeng Bollo (68) menjalani hidup dalam kondisi memprihatinkan di bantaran Sungai Jeneberang, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Nenek Bungalia hanya bisa terbaring lemah di atas kasur di sebuah rumah kayu yang tidak layak huni. Rumah tersebut berada di Kelurahan Pandang-pandang, Kecamatan Somba Opu.
“Sudah 20 tahunmi sakit lumpuh,” ujar Indah Riani (40), anak Bungalia, seperti dilansir dari Tribun Gowa.
Bungalia tidak mampu bangkit dan berjalan. Kondisi itu dialaminya sejak anak-anaknya masih berusia muda.
Pantauan di lokasi pada Selasa sore, 30 Desember 2025, menunjukkan kondisi rumah sangat memprihatinkan. Atap rumah mengalami kebocoran di sejumlah titik. Lantai rumah juga kerap tergenang air saat banjir melanda kawasan bantaran sungai.
Dalam keseharian, Bungalia hanya terbaring mengenakan sarung. Seluruh aktivitasnya, termasuk makan dan ke toilet, dibantu oleh putrinya, Indah Riani (40).
Indah menjelaskan bahwa ibunya telah mengalami lumpuh selama dua dekade. Ia juga mengenang masa ketika ibunya masih sehat dan merawat anak-anaknya.
Kini, peran tersebut berbalik. Indah menjadi satu-satunya yang merawat Bungalia setiap hari di tengah keterbatasan ekonomi keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan makan dan pengobatan, Indah mengandalkan penghasilan pribadinya. Ia menyebut selama bertahun-tahun tidak ada bantuan rutin yang diterima keluarganya.
Menurut Indah, ibunya tidak pernah didata sebagai warga miskin ekstrem. Meski terkadang menerima bantuan sembako, keluarga tersebut belum pernah mendapat bantuan kesehatan, termasuk Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Indah mengungkapkan bahwa seluruh biaya pengobatan selama ini ditanggung secara mandiri. Ia juga mengaku kerap bingung saat diminta mengurus bantuan karena minim informasi dan pendampingan.
Selain lumpuh, Bungalia juga sering mengalami demam. Jika harus berobat ke dokter, ia harus diangkat secara manual oleh keluarga karena tidak bisa berjalan.
Kondisi ekonomi keluarga semakin berat karena Indah hanya bekerja sebagai penjual bakso. Penghasilannya berkisar ratusan ribu rupiah per bulan. Ia juga harus menghidupi empat orang anak.
Indah menyampaikan bahwa penghasilannya belum mencukupi untuk membiayai kebutuhan orang tuanya. Namun, ia tetap berusaha bertahan demi merawat sang ibu.
Kabar baik mulai datang ketika pemerintah daerah mendatangi rumah Bungalia untuk mengurus kepesertaan KIS. Indah menyebut kunjungan tersebut baru pertama kali dilakukan.
Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Pemprov Sulsel juga turun langsung setelah menerima laporan. Perwakilan UPZ Pemprov Sulsel, Andi Aryani, menjelaskan bahwa bantuan awal telah diberikan berupa sembako dan popok.
Ia juga menyampaikan bahwa Bungalia mengalami stroke sejak sekitar 20 tahun lalu sehingga hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kondisi rumah yang ditempati dinilai sangat tidak layak huni.
Menurutnya, banyak bagian rumah mengalami kebocoran dan lantai sering tergenang air saat banjir. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk penanganan lanjutan.
UPZ Pemprov Sulsel akan bersinergi dengan Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, serta Dinas Kesehatan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bantuan berkelanjutan bagi Bungalia.
Kisah Nenek Bungalia menjadi potret nyata kerasnya kehidupan lansia miskin ekstrem di Kabupaten Gowa. Harapan kini tertumpu pada perhatian dan kehadiran negara yang lebih nyata.



