
Kerajaan Gowa Tallo: Jejak Kesultanan Maritim Islam yang Mengakar di Sulawesi Selatan
Sejarah Sulawesi Selatan tidak bisa dilepaskan dari nama besar Kerajaan Gowa Tallo. Kesultanan Islam yang pernah berjaya ini bukan sekadar entitas politik masa lalu, melainkan bagian penting dari denyut kehidupan orang Gowa dan Makassar hingga hari ini. Dari pesisir hingga pedalaman, dari benteng hingga masjid tua, Gowa Tallo meninggalkan jejak yang nyata dan hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.
Kerajaan ini tumbuh dari kearifan lokal, berkembang melalui perdagangan laut, dan diuji oleh kerasnya kolonialisme. Kisahnya mengalir bersama ombak Selat Makassar, membawa cerita tentang persatuan, keberanian, dan harga diri sebuah bangsa yang pernah berdiri sejajar dengan kekuatan dunia.
Gowa Tallo dan Letaknya yang Strategis
Kerajaan Gowa Tallo berpusat di wilayah yang kini dikenal sebagai Makassar dan Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ibu kota kerajaannya berada di Sungguminasa, sebuah kawasan yang sampai sekarang masih menjadi jantung budaya Gowa. Letak geografis ini bukan kebetulan. Gowa berada tepat di jalur pelayaran penting yang menghubungkan wilayah barat dan timur Nusantara.
Posisi strategis tersebut menjadikan Gowa sebagai tempat singgah para pedagang dari berbagai penjuru. Kapal-kapal dari Jawa, Maluku, Kalimantan, hingga Asia dan Eropa pernah berlabuh di pelabuhan Makassar. Dari sinilah Gowa Tallo tumbuh sebagai kerajaan maritim yang disegani, bukan hanya karena kekuatan militernya, tetapi juga karena keterbukaannya terhadap dunia luar.
Pada masa kejayaannya, pengaruh Gowa Tallo meluas jauh melampaui Sulawesi Selatan. Kekuasaan dan jaringan dagangnya menjangkau wilayah Sulawesi lainnya, sebagian Kalimantan, hingga Nusa Tenggara. Gowa menjadi simpul penting perdagangan Indonesia bagian timur.
Awal Mula Gowa: Dari Negeri-negeri Kecil ke Kerajaan Besar
Sebelum dikenal sebagai kerajaan besar, wilayah Gowa terdiri atas sembilan negeri kecil yang berdiri sendiri. Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero dipimpin oleh masing-masing penguasa lokal yang disebut Raja Kecil. Saat itu, belum ada satu kekuasaan yang menyatukan mereka.
Dalam kondisi tanpa raja utama, para penguasa bersama tokoh adat Paccallaya melakukan musyawarah. Mereka memohon kepada Dewata agar diturunkan seorang pemimpin yang mampu mempersatukan Gowa. Dari kisah inilah muncul sosok Tumanurung Bainea, figur yang dipercaya sebagai utusan ilahi.
Pada tahun 1320, Tumanurung Bainea diangkat sebagai Raja Gowa pertama dengan gelar Karaeng Sombaya Ri Gowa. Sejak saat itu, sembilan negeri kecil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Mereka menjadi bagian dari sistem pemerintahan kerajaan melalui lembaga Kasuwiyang Salapanga atau Sembilan Pengabdi, yang kemudian berkembang menjadi Bate Salapang, Sembilan Pemegang Bendera.
Struktur ini menunjukkan bahwa sejak awal, Gowa telah mengenal konsep pemerintahan kolektif yang mengedepankan musyawarah dan keseimbangan kekuasaan.
Perjalanan Panjang Menuju Kesultanan Islam
Pada masa awal, masyarakat Gowa menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, dengan penghormatan kuat kepada roh leluhur dan kekuatan alam. Pengaruh Hindu juga masuk melalui jalur perdagangan dan interaksi budaya. Kepercayaan ini membentuk cara pandang masyarakat terhadap kehidupan, alam, dan kekuasaan.
Perubahan besar terjadi pada awal abad ke-17. Islam mulai masuk dan diterima secara luas di Gowa melalui dakwah para ulama, salah satunya Dato Ribandang. Pada 20 September 1605, Raja Gowa I Mangarangi Daeng Manrabia menyatakan masuk Islam dan bergelar Sultan Alauddin. Peristiwa ini menjadi titik balik sejarah Gowa.
Tak lama berselang, Kerajaan Tallo juga mengikuti jejak yang sama. Raja Tallo I, Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Katangka, memeluk Islam dan dikenal sebagai Sultan Awwalul Islam. Ia berperan penting dalam memperkenalkan salat Jumat kepada masyarakat, menandai Islam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial dan pemerintahan.
Sejak itu, Gowa dan Tallo dikenal sebagai Kesultanan Islam. Nilai-nilai Islam berpadu dengan adat lokal, membentuk sistem pemerintahan yang khas dan berakar kuat pada budaya setempat. Hingga masa Sultan Hasanuddin, Kerajaan Gowa telah mengalami 36 kali pergantian raja.
Masa Kejayaan di Bawah Sultan Hasanuddin
Nama Sultan Hasanuddin menempati tempat istimewa dalam sejarah Kerajaan Gowa Tallo. Ia adalah Raja Gowa ke-16 sekaligus simbol perlawanan dan harga diri. Di bawah kepemimpinannya, Gowa mencapai puncak kejayaan sebagai kekuatan maritim besar di Indonesia timur.

Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional yang ramai. Pedagang dari berbagai daerah dan bangsa datang untuk berdagang rempah, hasil laut, dan komoditas lainnya. Kerajaan Gowa menerapkan kebijakan laut bebas, yang memberi kebebasan berdagang tanpa monopoli. Kebijakan ini menjadikan Makassar sebagai kota kosmopolitan pada masanya.
Namun, kebijakan tersebut bertentangan dengan kepentingan VOC Belanda yang ingin memonopoli perdagangan. Ketegangan pun tak terhindarkan. Perang Makassar yang berlangsung antara 1666 hingga 1669 menjadi bukti keteguhan Sultan Hasanuddin dalam mempertahankan kedaulatan Gowa.
Keberanian dan keteguhannya membuat Sultan Hasanuddin dijuluki Ayam Jantan dari Timur. Julukan itu bukan sekadar simbol keberanian, tetapi juga cerminan sikap pantang tunduk pada penindasan. Selain militer, Sultan Hasanuddin juga memberi perhatian pada pendidikan dan kebudayaan, memperkuat nilai siri’ dan pacce yang hingga kini menjadi identitas masyarakat Sulawesi Selatan.
Kemunduran Gowa dan Perjanjian Bongaya
Perang berkepanjangan dengan VOC membawa dampak besar bagi Kerajaan Gowa Tallo. Sumber daya terkuras, rakyat menderita, dan tekanan politik semakin kuat. Demi menghindari korban yang lebih besar, Sultan Hasanuddin akhirnya menerima perundingan damai.
Pada 18 November 1667, lahirlah Perjanjian Bongaya atau Cappaya ri Bungaya. Perjanjian ini sangat merugikan pihak Gowa karena membatasi kedaulatan politik dan ekonomi kerajaan. Meski begitu, perlawanan belum sepenuhnya berhenti.
Pertempuran kembali pecah hingga akhirnya Benteng Somba Opu, pusat pertahanan Gowa, jatuh ke tangan Belanda. Sultan Hasanuddin memilih mundur dari tahta pada 1 Juni 1669 setelah hampir 16 tahun memimpin perlawanan. Ia menolak bekerja sama dengan penjajah, sebuah sikap yang membuatnya dikenang sebagai simbol kehormatan dan keteguhan prinsip.
Pada masa-masa berikutnya, Kesultanan Makassar mengalami perubahan peran hingga akhirnya resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada masa Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin. Negara kemudian mengakui jasa Sultan Hasanuddin dengan menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1973.
Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo yang Masih Hidup
Jejak Kerajaan Gowa Tallo masih dapat disaksikan hingga kini melalui berbagai peninggalan bersejarah.
Benteng Somba Opu pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan Kerajaan Gowa. Pada abad ke-16, benteng ini ramai oleh aktivitas niaga internasional dan menjadi simbol kekuatan Gowa.
Benteng Fort Rotterdam, yang dahulu dikenal sebagai Benteng Jumpandang, awalnya merupakan markas pasukan laut Gowa. Setelah Perjanjian Bongaya, benteng ini dikuasai Belanda dan kini menjadi salah satu ikon sejarah Makassar.
Istana Balla Lompoa di Sungguminasa merupakan kediaman resmi Raja Gowa. Kini, istana ini menjadi museum dan pusat pelestarian budaya Gowa.
Istana Tamalate dikenal sebagai istana pertama Kerajaan Gowa Tallo sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Somba Opu. Bangunan yang ada sekarang merupakan replika dari istana asli.
Kompleks Makam Raja Gowa dan Tallo di Kecamatan Tallo menjadi saksi bisu perjalanan panjang para penguasa Gowa sejak abad ke-17.
Masjid Tua Katangka atau Masjid Al-Hilal dikenal sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan dan menjadi pusat dakwah Islam Kesultanan Gowa pada masanya.
Warisan Gowa Tallo bagi Sulawesi Selatan
Kerajaan Gowa Tallo bukan sekadar cerita masa lalu. Nilai keberanian, keterbukaan, dan kemandirian yang diwariskan para leluhur masih terasa dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan hari ini. Gowa Tallo mengajarkan bahwa kemajuan tidak harus melepaskan akar budaya, dan keterbukaan terhadap dunia dapat berjalan seiring dengan menjaga harga diri.
Sejarah Gowa Tallo adalah cermin bahwa dari tanah Sulawesi Selatan pernah lahir sebuah peradaban maritim yang besar, bermartabat, dan berpengaruh.



