Tumamenang ri Papambatuna: Kisah Sultan Malikussaid yang Mengubah Arah Sejarah Gowa
Ada sesuatu yang selalu membuat saya tertegun setiap kali menyusuri jejak sejarah Kerajaan Gowa. Di antara nama-nama besar yang tercatat, satu sosok selalu memantul lebih terang: Sultan Malikussaid, lelaki yang lahir dari darah bangsawan tapi tumbuh dengan naluri seorang pedagang, berlayar dari pulau ke pulau sebelum akhirnya memimpin salah satu kerajaan terbesar di Nusantara.
Dan setiap kali saya membaca kembali kisahnya, saya merasa seperti sedang mengikuti perjalanan seseorang yang bukan hanya menjadi raja—tetapi memahat ulang perjalanan bangsanya sendiri.
Dari Gelombang Perdagangan ke Puncak Tahta
Sultan Malikussaid lahir pada tahun 1595 dengan nama panjang yang sarat makna dan garis keturunan:
I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiyung, Muhammad Said Sultan Malikussaid Tumenanga ri Papang Batunna.
Ia merupakan putra dari Karaeng Matoaya, raja Gowa ke-14, dan I Tanirara, putri raja Tallo ke-6. Sejak kecil, hidupnya tidak hanya dipenuhi upacara istana, tetapi juga ditempa oleh pengalaman nyata sebagai seorang pedagang muda.
Ia sering berlayar menuju Jawa, Maluku, hingga Banten; berdiri di antara hiruk-pikuk pelabuhan, menawar rempah, mempelajari bahasa asing, dan memahami watak para saudagar Portugal, Inggris, hingga Belanda. Dari perjalanan-perjalanan inilah ia belajar satu hal penting: kekuatan sebuah kerajaan tidak hanya ditentukan oleh pedang, tetapi juga oleh jaringan dan kepercayaan.
Dan pelajaran itu terbukti kelak menjadi fondasi kepemimpinannya.
Nama-Nama yang Menandai Perjalanan Hidup Sang Karaeng
Sejak kecil, I Mannuntung sudah ditempatkan dalam lingkaran kekuasaan dan tradisi politik perjodohan.
Beliau pernah dijodohkan dengan seorang putri Bone bernama I Lapalang, anak penguasa bergelar Matinroa ri Tallo. Namun sebelum pernikahan berlangsung, takdir bergerak lebih cepat: I Lapalang meninggal dunia.
Perjodohan pun berpindah, kali ini dengan putri Tumammaliang ri Timoro’, yaitu I Ranga, yang menyandang gelar kerajaan I Daeng Mate’ne, Karaeng ri Tangalla’. I Ranga berasal dari garis bangsawan terpandang—ibunya adalah putri Karaeng ri Barombong bernama I Bijawi (I Daeng Kaling).
Saat I Ranga mencapai usia akil balig, mereka menikah. Namun, usia yang sangat muda dan dinamika kehidupan istana membuat pernikahan ini tak bertahan lama. Mereka akhirnya berpisah.
Setelah itu, I Mannuntung menikah dengan putri Karaeng Matoaya, yaitu I Baine, bergelar I Kare Ma’nassa, dikenal pula sebagai Daenta ri Pattingalloang. Tetapi perjalanan rumah tangga ini juga bukan yang terakhir dalam hidupnya.
Ia kemudian mengambil istri dari Laikang yang tinggal di Pattoppakang, seorang perempuan bernama I Sa’be (I Lo’mo’ Kontu). Dari pernikahan ini lahir dua anak:
- I Patima (I Saniq), kelak bergelar I Daeng Nisakking, Karaeng Bontojeqneq
- Muhammad Bakir (I Mallombasi), yang memiliki gelar I Daeng Mattawang, Karaeng Bontomangape—dan nantinya dikenal sebagai Sultan Hasanuddin. Inilah anak-anak yang lahir sebelum I Mannuntung naik takhta.
Menjelang masa kekuasaannya, ia menceraikan Daenta ri Pattingalloang dan kembali menikahi I Ranga (Karaeng ri Tangalla’). Setelah menjadi penguasa, ia memperistri seorang perempuan dari Binamu’ bernama I Bissu, bergelar I Kare Jannang, sahabat dari seorang wanita Tallampuang.
Dari I Bissu, lahir seorang putri bernama I Rabia (I Sungguminasa), yang bergelar I Daeng Nisanga, Karaeng Sanggiringang. Dua tahun setelah kelahiran putrinya, ia kembali berpisah dari Karaeng ri Tangalla’.
Kemudian ia menikahi sepupunya dari Sanrabone, I Ranga, bergelar I Daeng Marannu, meskipun pernikahan ini tidak dikaruniai anak.
Setelah itu menyusul lagi pernikahan dengan I Mallewai (I Daeng Maqnassa), cucu dari Karaeng Matoaya, serta pernikahan dengan seorang perempuan bernama I Ralle (I Daeng Paika’), yang memberinya seorang putri bernama I Manneratu—berglar I Daeng Niasseng, Karaeng ri Bontomate’ne (kemudian berganti menjadi Karaeng ri Lakiung). Dalam beberapa catatan, Ia Manneratu dikenal pula dengan nama Jawa, I Sapuru.
Selain istri dari kalangan bangsawan, ada pula dari kalangan budak. Dari seorang budak bernama I Yata, lahirlah seorang putra bernama I Asseng, bergelar I Loqmoq Singara’. Ada juga seorang putra lain, I Tanriwalu—nama Arabnya I Sepulo, nama Makassarnya I Atatojeng, dan nama kerajaan I Kare Tulolo, bergelar Karaeng Bontomajannang.
Semua kisah pernikahan dan keturunannya ini membentuk mosaik besar kehidupan seorang bangsawan Makassar, sebelum ia di kemudian hari dipanggil dunia sebagai Sultan Malikussaid.
Naik Tahta dan Mewariskan Kebijakan yang Meluaskan Cakrawala Gowa
Tahun 1611, ayahnya mangkat, dan Malikussaid naik tahta sebagai raja Gowa ke-15. Pada masa awal kepemimpinannya, ia melanjutkan arah kebijakan pendahulunya—memperkuat armada laut, memperluas wilayah, dan menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan lain di Nusantara.
Di bawah kepemimpinannya, Gowa tumbuh menjadi kekuatan maritim besar. Beberapa kerajaan seperti Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, dan Mandar berhasil ditundukkan. Ia bahkan mengirim ekspedisi hingga ke Maluku, Sulawesi Utara, dan Papua, menegaskan dominasi Gowa dalam dunia perdagangan rempah.
Pemerintahannya menandai satu fase yang sering dianggap sebagai masa keemasan Kerajaan Gowa—ketika laut menjadi halaman rumah, dan angin perdagangan membawa nama Gowa ke penjuru Asia Tenggara.
Momen Titik Balik: Pertemuan dengan Datuk Ri Bandang
Namun bagian paling menarik dan menentukan dalam perjalanan hidupnya bukanlah kemenangan militer, melainkan momen hening ketika ia bertemu seorang ulama dari Aceh bernama Datuk Ri Bandang, pada tahun 1605.
Pertemuan mereka bukan sekadar kunjungan seorang pendakwah kepada seorang raja. Itu adalah percakapan yang mengubah arah sejarah Sulawesi Selatan.
Datuk Ri Bandang memperkenalkan Islam bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai jalan terang—agama tauhid yang menata ulang hubungan manusia dengan Tuhannya. Tradisi dan logika istana membuat Malikussaid tidak mudah diyakinkan. Tapi ada sesuatu dalam ajaran itu yang menyentuh nuraninya.
Hingga akhirnya ia mengucap syahadat. Saat itu pula ia mengambil gelar yang kini abadi dikenang:
Sultan Malikussaid.
Dan seperti halnya kepemimpinan sejati, ia tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia memerintahkan rakyat Gowa untuk memeluk Islam, membangun masjid-masjid besar di seluruh wilayahnya, termasuk Masjid Bontoala, masjid tertua di Sulawesi Selatan. Ia juga mengirim utusan ke Mekkah untuk membuka jalur hubungan dengan dunia Islam.
Gerakannya tidak sekadar administratif; itu adalah transformasi peradaban.
Warisan yang Menembus Waktu
Sultan Malikussaid wafat pada tahun 1639 dan dimakamkan di Makam Katangka, tidak jauh dari Masjid Bontoala yang ia bangun. Gelar anumerta Tumenanga ri Papambatuna mengabadikan dirinya sebagai sosok yang kembali ke pangkuan tanah kelahiran setelah menorehkan perubahan besar.
Ia digantikan oleh putranya yang kelak dikenal luas: Sultan Hasanuddin, Sang Ayam Jantan dari Timur—pahlawan yang meneruskan perlawanan terhadap VOC.
Namun sebelum ketenaran putranya bersinar, fondasinya telah diletakkan oleh sang ayah:
—Kerajaan yang kuat,
—rakyat yang bersatu di bawah panji Islam,
—dan identitas maritim yang melabuhkan Gowa sebagai kekuatan besar di Nusantara.
Warisan Malikussaid bukan hanya tentang wilayah yang diperluas. Itu adalah warisan keyakinan, peradaban, dan jaringan perdagangan internasional yang membentuk wajah Sulawesi Selatan hingga hari ini.
Ia dikenang sebagai salah satu raja terbaik dalam sejarah Nusantara—bukan semata karena takhta yang ia duduki, tetapi karena visi jauh ke depan yang ia bawa dalam setiap langkahnya.

