
Jejak Islam di Gowa: Dari Sultan Alauddin sampai Syekh Yusuf
Bayangkan kamu sedang berjalan menyusuri jalan Syekh Yusuf di Gowa. Di kiri kanan, ada bangunan-bangunan tua dan cerita-cerita lama yang menyimpan jejak kehidupan masyarakat Gowa sejak ratusan tahun lalu. Di sanalah Islam mulai tumbuh, bukan sekadar sebagai agama, tetapi sebagai bagian jiwa dan budaya masyarakat Gowa.
Sultan Alauddin: Raja Muda yang Mengubah Sejarah
Kisah besar ini dimulai dengan seorang pemuda yang masih sangat muda — sekitar 19 tahun — bernama I Mangngarangi Daeng Manrabbia. Ia adalah Raja Gowa ke-14 yang kemudian dikenal sebagai Sultan Alauddin, raja pertama di Kerajaan Gowa yang resmi masuk Islam pada 22 September 1605. Peristiwa ini menjadi titik penting karena dari sinilah Islam mulai dijadikan agama kerajaan yang diikuti oleh rakyatnya.
Sebelum itu, Islam sebenarnya sudah dikenal di Gowa melalui para pedagang dari berbagai daerah seperti Melayu dan Minangkabau. Namun pilihan Sultan Alauddin untuk memeluk Islam menjadikan agama ini tumbuh lebih cepat dan mapan di tengah masyarakat.
Ada satu bangunan yang menjadi saksi bisu dari momen ini: Masjid Tua Al-Hilal Katangka. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1603 dan menjadi salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan. Didirikan oleh Sultan Alauddin, masjid ini bukan sekadar tempat beribadah — ia menjadi pusat dakwah dan pembelajaran agama Islam di Gowa, serta simbol awal perubahan spiritual masyarakat setempat.
Masjid Katangka: Saksi Perjalanan Spiritual
Bayangkan sebuah bangunan tua dengan arsitektur yang memadukan gaya lokal dan luar negeri — itulah Masjid Katangka. Di masa lalu, masjid ini berdiri di pusat permukiman kerajaan dan menjadi tempat berkumpulnya para ulama, raja, dan rakyat. Tidak jauh dari masjid, ada makam para pemimpin dan ulama yang menunjukkan betapa pentingnya tempat ini dalam sejarah Islam di Gowa.
Setiap sudut masjid itu bercerita tentang bagaimana Islam berkembang dari hati seorang raja menuju kehidupan rakyat biasa. Ketika salat Jumat pertama dilaksanakan di wilayah ini, itu bukan sekadar ritual ibadah — itu adalah simbol perubahan besar dalam cara hidup masyarakat Gowa yang baru saja memeluk Islam.
Setelah masa Sultan Alauddin, jejak Islam di Gowa terus berkembang melalui generasi ulama. Di antara mereka, sosok yang paling dikenal adalah Syekh Yusuf al-Makassari. Ia lahir di Gowa pada 3 Juli 1626 dan sejak muda sudah menekuni ilmu agama. Syekh Yusuf bukan hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga sebagai seorang pejuang agama dan tokoh penting dalam penyebaran Islam di Nusantara dan bahkan Afrika. (Wikipedia)
Namanya juga dikenal sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa, yang berarti “guru penyelamat dari Gowa” — gelar yang diberikan warga karena jasanya dalam mengajarkan Islam. Perjalanan hidupnya membawa dia ke banyak tempat: dari Gowa ke Banten dan Aceh untuk belajar dan berdakwah, hingga akhirnya ia ditangkap Belanda dan diasingkan ke Afrika Selatan. (Wikipedia)
Di Cape Town, ia tidak berhenti mengajarkan Islam. Komunitas Muslim pertama di wilayah tersebut tumbuh di bawah bimbingannya. Keberadaannya di tanah jauh itu kini diingat melalui sebuah makam ziarah yang sering dikunjungi oleh umat Muslim setempat. (Wikipedia)
Setelah wafat di luar negeri pada 23 Mei 1699, jenazah Syekh Yusuf akhirnya dibawa pulang dan dimakamkan di Lakiung, Gowa. Makamnya kini menjadi tempat kunjungan ziarah, mengingatkan generasi kini tentang perjalanan panjang seorang ulama dari Gowa yang jejaknya meninggalkan warisan spiritual besar. (Wikipedia)
Warisan yang Terus Hidup
Cerita tentang Sultan Alauddin dan Syekh Yusuf bukan hanya sejarah kuno yang tertulis dalam buku. Di Gowa hari ini, jejak mereka masih terasa kuat:
- Masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Katangka masih berdiri kokoh dan menjadi tempat ibadah serta wisata sejarah.
- Tradisi keagamaan masyarakat Gowa yang kuat dan penuh nilai kebersamaan mencerminkan semangat spiritual yang diwariskan leluhur.
- Tempat-tempat ziarah seperti Makam Syekh Yusuf menjadi lokasi yang menghubungkan masa lalu dengan generasi sekarang.
Dari cerita Sultan Alauddin yang memilih Islam sebagai jalan hidupnya, hingga ke gigihnya Syekh Yusuf dalam mengajarkan ajaran Islam bahkan di luar negeri — semuanya menunjukkan bahwa Islam di Gowa bukan sekadar agama, tetapi bagian penting dari budaya dan identitas masyarakatnya.


